BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Penelitian
Pembelajaran pesan moral merupakan
hal penting dalam pembelajaran sastra di sekolah. Dengan banyaknya pesan moral
yang didapatkan siswa, diharapkan siswa akan terbawa pada moral yang baik,
yaitu yang sesuai dengan etika dan adat istiadat yang berlaku di masyarakat
atau paling tidak mampu memahami pesan moral yang terkandung dalam karya
sastra. Karya sastra dapat dipandang sebagai objek yang dekat hubunganya dengan
masyarakat. Karena apa yang tertuang di dalam karya sastra merupakan proses
penciptaan dari Si Pengarang karya sastra atau sastrawan, yang hubunganya
dengan masyarakat disekeliling sastrawan itu sendiri.
Pesan moral dalam kumpulan
cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari digunakan pada judul penelitian ini karena dalam
kumpulan cerpen tersebut terdapat hal-hal yang dapat diteladani oleh
siswa dari tokoh maupun
penceritaannya, khususnya tentang pesan moral. Pesan moral menjadi masalah
sensorik yang diungkapkan pengarang melalui tokoh dan peristiwa yang
diceritakan. Semua itu bermuara dan berpengaruh pada moralitas tokoh cerita
dalam sebuah karya sastra.
Karya sastra tidak lebih merupakan
usaha sastrawan dalam rangka mengabdikan nilai-nilai yang menurut keyakinannya
bermanfaat bagi penikmat karya sastra itu, demikian yang dikemukakan Suharianto
(1982:17). Orientasi karya sastra menurut Abrams dalam Pradopo (2011:206-207)
adalah.
Pertama,
karya sastra itu merupakan tiruan alam atau penggambaran alam; kedua, karya
sastra itu merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan tertentu pada
pembacanya; ketiga, karya sastra merupakan pancaran perasaan, pikiran, ataupun
pengalaman sastrawan; dan keempat karya sastra itu merupakan sesuatu yang
otonom, mandiri, lepas dari alam sekelilingnya, pembaca maupun pengarangnya.
Sejalan dengan pendapat tersebut,
menurut Suharianto (1982:14) karya sastra adalah pengungkapan kehidupan yang
dipadukan dengan imajinasi dan kreasi seorang pengarang serta cerita dukungan
pengalaman dan pengetahuannya atas kehidupan tersebut. Menurut Noor
(2007:11) karya sastra adalah karya yang
bersifat fiktif (rekaan). Sebuah karya sastra meskipun bahannya (inspirasinya)
diambil dari dunia nyata, tetapi sudah diolah oleh pengarang melalui
imajinasinya sehingga tidak dapat diharapkan realitas karya sastra sama dengan
realitas dunia nyata.
Dari pendapat tersebut disimpulkan
bahwa karya sastra adalah sebuah karya rekaan tentang kehidupan yang mengandung
nilai-nilai dengan cara pengungkapan yang dipadukan dengan daya imajinasi
pengarang sehingga menjadi sesuatu yang otonom, mandiri, lepas dari alam
sekelilingnya dan berisi hal-hal yang bermanfaat bagi penikmat karya sastra
itu. Pada umumnya karya sastra yang berhasil selalu mengandung nilai-nilai
luhur yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Meskipun hanya sebuah kreasi
manusia, karya sastra mampu memaparkan realitas dalam kehidupan sehari-hari
yang dapat dijadikan cerminan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut Harjito (2007:95), secara
umum karya sastra terdiri dari prosa,
puisi, dan drama. Prosa bisa berupa novel, roman, cerita bersambung (cerbung),
dan cerita pendek (cerpen). Pemilihan cerpen pada penelitian karya sastra
relatif lebih menguntungkan jika dilihat dari beberapa aspek. Dibandingkan
dengan bentuk prosa yang lain, cerpen memiliki bentuk yang paling pendek.
Bentuknya yang pendek memberi keuntungan bagi proses pembelajaran karya sastra
di sekolah. Selain itu, alokasi waktu yang disediakan oleh kurikulum relatif
lebih sedikit. Cerpen sebagai salah satu bentuk karya sastra diharapkan memunculkan
pemikiran-pemikiran yang positif bagi pembacanya, sehingga pembaca peka
terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan mendorong
untuk berperilaku yang baik. Cerpen dapat dijadikan bahan perenungan untuk
mencari pengalaman karena cerpen mengandung pesan-pesan kehidupan, pendidikan
serta pesan moral.
Sebuah cerita
pendek menurut Rahmanto (1993:88), biasanya dapat dibaca sampai selesai dalam sekali
jam tatap muka dan tugas-tugas yang berhubungan dengan cerita pendek tersebut
biasanya dapat selesai pula dalam sekali tatap muka. Menurut Nuryatin (2010:2),
cerpen
adalah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata)
yang dimaksudkan memberikan kesan tunggal yang dominan. Sejalan dengan pendapat tersebut Santosa dan Wahyuningtyas
(2010:2), mengatakan “cerpen adalah cerita yang panjangnya kira-kira 17 halaman
kuarto spasi rangkap, padat, lengkap, ada kesatuan, mengandung satu efek dan
selesai”.
Dari
pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa cerpen
adalah sebuah cerita rekaan yang padat, memiliki
kesan tunggal dan selesai dibaca dalam sekali jam.
Salah satu cerpenis Indonesia adalah Ahmad Tohari. Ia Lahir di
Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada 13 Juni 1948. Ahmad Tohari
menamatkan SMA nya di Purwokerto. Setelah itu Ia menimba ilmu di Fakultas Ilmu
Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas
Jenderal Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik
Universitas Jenderal Sudirman (1975-1976). Ahmad Tohari sudah banyak menulis
novel, cerpen dan secara rutin pernah mengisi kolom Resonansi di harian
Republika. Karya-karya Ahmad Tohari juga telah diterbitkan dalam berbagai
bahasa seperti bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. http://biografinya.blogspot.com/2011/11/ahmad_tohari.html.
diakses21April2012.
Ahmad
Tohari memiliki tiga kumpulan cerpen, pertama Senyum Karyamin (1989), kedua Nyanyian
Malam (2000), dan ketiga Rusmi Ingin
Pulang (2004). Tahun 2010 Ahmad Tohari mendapat anugerah sastra yang
diberikan oleh Budiono Wakil Presiden RI pada Pekan Produk Kreatif Indonesia.
Belum lama ini ia dianugerahi PWI Jateng Award 2012 karena karya-karya
sastranya yang dinilai mampu menggugah dunia. http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/06/24/114342/Ahmad-Tohari-dan-Itsna-Affandi-Raih-Penghargaan-Wapres-diakses11Mei2012.
Kumpulan cerpen Senyum Karyamin menceritakan kehidupan warga desa yang hidupnya serba
sederhana dengan masalah-masalah yang beranekaragam. Melalui tokoh-tokoh dalam kumpulan
cerpen Senyum karyamin ini Ahmad Tohari mengajak pembaca untuk lebih jeli
dengan keadaan yang ada di sekitarnya. Cerpennya yang berjudul “Jasa-jasa buat Sanwirya” pernah
mendapat hadiah hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan Radio
Nederlands Wereldomroep. Beberapa cerpen Ahmad Tohari yang pernah dimuat di
harian Kompas adalah “Si Minem
Beranak Bayi” (26 September 1982),
”Surabanglus” (2 Januari 1983),
“Tinggal Matanya Berkedip-Kedip” (10 April 1983), “Rumah yang Terang” (11
Agustus 1985), “Kenthus” (1 Desember 1985), dan “Senyum Karyamin” (26 Juli
1987); di Minggu Ini, Semarang,
“Blokeng” (31 Maret 1985) dan “Syukuran Sutabawor” (19 Mei 1985); di Warta NU, “Orang
– Orang Seberang Kali” (Maret 1986) dan “Pengemis dan Shalawat Badar” (Februari
1989); serta yang berasal dari majalah Panji
Masyarakat, “Ah Jakarta” (No.443.1984) dan majalah Amanah, “Wangon Jatilawang” (November 1986).
(Mahayana dalam Tohari, 2005:ix).
Pembelajaran karya sastra di
sekolah haruslah sudah sampai pada tahap apresiasi pada pesan – pesan yang
terkandung dalam karya sastra itu. Karya sastra dalam pembelajaran menduduki peranan yang penting dalam kurikulum
pendidikan, oleh karena itu karya sastra harus disajikan dalam proses pembelajaran
di sekolah. Rahmanto (1993:15),
mengatakan “jika pengajaran
sastra dilakukan dengan cara yang tepat, maka pengajaran sastra dapat juga
memberikan sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang
cukup sulit untuk dipecahkan di dalam masyarakat”.
Pembelajaran cerpen merupakan pembelajaran karya sastra yang masih mendapat ruang dalam kurikulum, oleh karena itu dalam pembelajaran cerpen banyak pilihan judul cerpen yang dapat dijadikan bahan pengajaran dalam pembelajaran
di SMA. Dalam silabus, standar kompetensi, dan kompetensi dasar pembelajaran cerpen hampir selalu diajarkan dalam setiap tingkat kelas.
Di kelas X melalui standar kompetensi “membahas cerita pendek melalui kegiatan
diskusi”, dan kompetensi
dasar ” mengemukakan hal-hal yang menarik atau
mengesankan dari cerita pendek melalui kegiatan diskusi”, siswa akan diajak untuk mengerti
dan menemukan pesan moral dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari.
Dalam pembelajaran karya sastra di
sekolah menengah sudah terlalu biasa bila siswa hanya diajarkan menemukan
unsur-unsur intrinsik karya sastra tanpa mengerti hal-hal menarik yang
tersimpan di dalamnya. Apalagi dengan metode pembelajaran yang biasa-biasa
saja. Seorang guru diharapkan mampu mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan
ajar tentang karya sastra sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan
kemampuan siswanya. Pemilihan metode pembelajaran tentunya menjadi pokok utama
dalam hal tersebut. Maka dalam penelitian ini digunakan sebuah pebelajaran
karya sastra dengan metode strata.
Metode strata adalah metode
pembelajaran karya sastra yang melalui tahap penjelajahan, penafsiran, dan
diakhiri dengan re-kreasi. Dengan metode ini, siswa diharapkan mampu memicu
dirinya sendiri untuk lebih kreatif dan meningkatkan daya imajinasinya
Berdasarkan latar belakang tersebut
maka judul penelitian ini adalah Pembelajaran Pesan Moral dalam Kumpulan Cerpen
Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari
Menggunakan Metode Strata pada Siswa Kelas X di SMA N 2 Bae Kabupaten Kudus
Tahun Ajaran 2012/2013.
B.
Rumusan
Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah
pesan moral dalam kumpulan cerpen Senyum
Karyamin karya Ahmad Tohari?
2. Bagaimanakah
penggunaan metode strata dalam pembelajaran pesan moral dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari pada
Siswa Kelas X di SMA N 2 Bae Kabupaten Kudus Tahun Ajaran 2012/2013.
C.
Tujuan
Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah
sebagai berikut.
1. Mendeskripsi
pesan moral dalam kumpulan cerpen Senyum
Karyamin karya Ahmad Tohari?
2. Mendeskripsi
penggunaan metode strata dalam pembelajaran pesan moral kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari pada
Siswa Kelas X di SMA N 2 Bae Kabupaten Kudus Tahun Ajaran 2012/2013.
D.
Manfaat
Penelitian
Hasil peneltitian ini diharapkan
dapat memberikan manfaat secara teoritis dan praktis.
Manfaat Teoritis dalam penelitian
ini adalah untuk menambah dan memperdalam teori yang berkaitan dengan pesan
moral, selain itu juga diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan pada
pembaca tentang pesan moral dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari
Manfaat Praktis dalam penelitian
ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu bagi guru dan bagi siswa. Manfaat bagi guru
adalah dapat dijadikan referensi bahan ajar guru dalam pembelajaran sastra dan
menambah khasanah pengetahuan dan keterampilan guru dalam pembelajaran karya
sastra di SMA. Manfaat bagi siswa adalah meningkatkan kemampuan dan pengetahuan
dalam mengapresiasikan karya sastra, khususnya pesan moral dalam pembelajaran
cerpen, dan menambah bahan bacaan apresiasi sastra di lingkungan masyarakat
pembaca (sekolah) dan pecinta karya sastra, khususnya di SMA.
E.
Penegasan
Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman
dalam memahami judul penelitian, perlu ditegaskan istilah-istilah yang
digunakan. Istilah- istilah tersebut adalah pembelajaran, pesan moral, cerpen,
dan metode strata.
Pembelajaran
adalah suatu perkembangan pengertian yaitu secara spontan dan ilmiah. Spontan
adalah pengertian yang didapatkan dari pengalaman sehari-hari. Dan ilmiah
adalah pengertian yang didapat di ruangan kelas atau yang diperoleh dari
pelajaran di sekolah, demikian yang dikemukakan Vygotsky melalui Isjoni (2009:55).
Pesan adalah permintaan amanat yang
harus dilakukan atau disampaikan kepada orang lain, demikian yang dikemukakan Retnoningsih
dan Soeharso (2005:377).
Moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan
kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas
suatu perbuatan, kelakuan, sifat, dan perangai dinyatakan benar, salah, baik,
buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut, demikian yang dikemukakan Retnoningsih
dan Soeharso (2005:971).
Dari
pengertian pesan dan pengertian moral tersebut, maka dapat disimpulkan pesan
moral adalah amanat berupa nilai-nilai dan norma – norma yang menjadi pegangan
seseorang / kelompok dalam mengatur tingkah lakunya dalam kehidupan
bermasyarakat.
Cerpen adalah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang dimaksudkan memberikan
kesan tunggal yang dominan, demikian
yang dikemukakan Nuryatin (2010:2).
Metode Strata adalah metode
pembelajaran karya sastra yang melalui tiga tahap pokok, yaitu : penjelajahan,
penafsiran, dan diakhiri dengan re-kreasi, demikian yang dikemukakan
Semi
(1993:158).
F.
Sistematika Penulisan Skripsi
Untuk memberikan gambaran secara keseluruhan,
penelitian ini disusun menjadi beberapa
sub bab. Adapun uraiannya adalah sebagai berikut:
Bab I pendahuluan, berisi latar belakang
masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan
istilah, dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II landasan teori dan kerangka
berpikit, berisi teori cerpen, pesan moral, metode strata, pembelajaran sastra di SMA Kelas X, dan
kerangka berpikir.
Bab
III
metode penelitian, berisi pendekatan penelitian, variabel penelitian, populasi
dan sampel, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan teknik penyajian
hasil analisis data.
Bab IV hasil penelitian dan
pembahasan, berisi deskripsi data dan pembahasan analisis pesan moral dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari dan penggunaan metode strata dalam
pembelajaran pesan moral pada siswa Kelas X di
SMA N 2 Bae Kabupaten Kudus.
Bab
V penutup, berisi simpulan dan saran.
TF_FOUNDATION
Tidak ada komentar:
Posting Komentar