PENDEKATAN
OBJEKTIF DALAM CERPEN PENGEMIS DAN SHALAWAT BADAR KARYA AHMAD TOHARI
Oleh:
Tommy Faesol
A.
PENDAHULUAN
Pendekatan merupakan cara-cara
menghampiri objek. Tujuan pendekatan adalah sebagai pengakuan
terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. Pendekatan dalam karya sastra
menurut Abrams melalui Teeuw (1984: 50) mengungkapkan ada empat macam
pendekatan terhadap karya sastra, yaitu: objektif, mimetik, pragmatik, dan
ekspresif.
Menurut Ratna (2011:73), pendekatan
objektif merupakan pendekatan yang terpenting sebab pendekatan apapun yang
dilakukan pada dasarnya bertumpu atas karya sastra itu sendiri. Pendekatan
objektif memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur, yang dikenal dengan
analisis intrinsik. Dengan pendekatan objektif, karya satra dianggap sebagai
sesuatu yang otonom, berdiri sendiri, lepas dari hal yang berada di luar unsur
intrinsik. Konsekuensi yang ditimbukan dari pendekatan objektif adalh menolah
segala unsur ektrinsik seperti aspek ekonomi, sosial, politik, dan unsur-unsur
yang lainnya. Walaupun antara unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik sama-sama
berperan dalam membangun karya sastra, namun dengan pendekatan objektif, unsur
yang diteliti hanyalah unsur intrinsik.
Mengenai unsur intrinsik karya
sastra, khususnya dalam prosa yang meliputi: novel, cerpen, cerbung, agaknya
para ahli sastra belum ada kesepakatan mengenai bagian apa saja yang harus dianalisis dalam unsur intrinsik tersebut. Menurut Ratna (2011:93), unsur intrinsik prosa meliputi: tema, peristwa
atau kejadian, latar atau setting, penokohan tau perwatakan, alur atau plot,
sudut pandang, dan gaya bahasa. Menurut Saad dalam Lukman Ali (1967:116-120),
unsur intriksik prosa meliputi: Tokoh, alur, latar, dan pusat pengisahan.
Menurut Harjito (2007:2-11), intrinsik prosa meliputi: tema, tokoh dan
penokohan, alur dan pengaluran, latar dan pelataran, dan pusat pengisahan.
Masih mengenai bagian dari
unsur intrinsik prosa, menurut
Endraswara (2008:52) meliputi: ide, tema, plot, latar, watak, tokoh,
gaya bahasa. Menurut Nuryatin (2010:4) unsur intrinsik cerpen mencakup: tema,
penokohan, alur, latar, pusat pengisahan/sudut pandang, dan gaya cerita. Dari
berbagai pendapat para pakar ilmu sastra tersebut, disimpulkan secara garis
besar unsur intrinsik cerpen adalah: tema, tokoh dan penokohan, alur, latar,
amanat, dan gaya bahasa.
Cerpen
“Pengemis dan Shalawat Badar” merupakan judul cerpen penutup dari kumpulan
cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad
Tohari. Alasan pemilihan cerpen tersebut adalah karena dipandang pengarang
cerpen tersebut sudah sangat terkenalnya. Ahmad Tohari memiliki tiga kumpulan
cerpen, pertama Senyum Karyamin
(1989), kedua Nyanyian Malam (2000),
dan ketiga Rusmi Ingin Pulang (2004).
Tahun 2010 Ahmad Tohari mendapat anugerah sastra yang diberikan oleh Budiono
Wakil Presiden RI pada Pekan Produk Kreatif Indonesia. Dan ia dianugerahi PWI Jateng Award 2012
karena karya-karya sastranya yang dinilai mampu menggugah dunia.http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/06/24/114342/Ahmad-Tohari-dan-Itsna-Affandi-Raih-Penghargaan-Wapres-diakses11Mei2012 dengan demikian dapat dikatakan bahwa semua orang yang penyuka
atau penikmat sastra Indonesia, pasti mengenal Ahmad Tohari-minimal mengenal
karya-karyanya.
B.
RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
bagaimanakah analisis karya sastra dengan pendekatan objektif pada cerpen
“Pengemis dan Shalawat Badar”?
C.
TEORI
1.
Tema
Nuryatin (2010:4),
mengatakan “tema adalah ide sentral
sebuah cerita. Tema cerpen ialah dasar cerita, yaitu konsep atau ide atau gagasan yang menjadi dasar
diciptakannya sebuah cerita”.
“Cerpen harus mempunyai
tema atau dasar. Dengan dasar itu pengarang dapat melukiskan watak-watak dari
orang yang diceritakan dalam cerpen itu dengan maksud yang tertentu, demikian
juga segala kejadian yang dirangkaikan berputar
kepada dasar itu”, demikian yang dikatakan Lubis dalam Nuryatin (2010:4).
Sejalan dengan pendapat
tersebut menurut Nurgiyantoro (2010:25), tema adalah sesuatu yang menjdi dasar
cerita. Ia selalu berkaitan dengan berbagai pengalaman kehidupan, seperti
masalah cinta, kasih, rindu, takut, maut, religius, dan sebagaianya.
Berdasarkan
pendapat-pendapat tersebut, maka disimpulkan bahwa tema adalah sesuatu hal dari
karya sastra yang menjadi dasar penceritaan dan dasar diciptakaanya karya
sastra itu.
Harjito (2007:4)
mengatakan “tema ada 2 macam, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor yaitu
tema yang menguasai seluruh cerita. Tema minor merupakan tema-tema tambahan
atau sampingan dari tema mayor.
Untuk dapat menemukan
tema, langkah-langkah yang perlu dilakukan menurut Saad dalam Harjito (2007:3)
adalah.
a.
Melihat
persoalan mana yang paling menonjol.
b.
Secara
kuantitatif, persoalan mana yang paling banyak menimbulkankonflik yaitu konflik
yang melahirkan peristiwa-peristiwa.
c.
Menentukan
(menghitung) waktu penceritaan, yakni waktu yang diperlukan untuk menceritakan
peristiwa-peristiwa atau tokoh – tokoh di dalam sebuah karya sastra sehubungan
dengan persoalan yang bersangkutan.
2.
Tokoh
dan Penokohan
“Tokoh ialah pelaku
rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan di pelbagai peristiwa”
(Harjito, 2007:4).
Abrams dalam
Nurgiyantoro (2010:165), mengatakan “tokoh adalah orang-orang yang ditampilkan
dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki
kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam
ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan”.
Sejalan dengan pendapat
tesebut Nuryatin (2010:7), mengatakan
“tokoh adalah pelaku yang dikisahkan perjalanan hidupnya dalam cerita
fiksi lewat alur baik sebagai pelaku maupun penderita berbagai peristiwa yang
diceritakan”.
Berdasarkan pendapat-
pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah seluruh pelaku
yang diceritakan dalam sebuah cerita fiksi.
Penokohan menurut Lubis
dalam Nuryatin (2010:8) ialah gambaran rupa atau watak lakon. Masih dalam
Nuryatin (2010:8), menurut Yudiono penokohan adalah cara menampilkan
tokoh-tokoh. Sejalan dengan pendapat tersebut, menurut Jones dalam Nurgiyantoro
(2010:165), mengatakan “penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang
seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita”. Dari pendapat-pendapat
tersebut, disimpulkan bahwa penokohan adalah cara penampilan atau pelukisan
mengenai tokoh-tokoh di dalam cerita.
Pelukisan tokoh
tersebut bisa secara analitik maupun dramatik. Harjito (2007:6) menyebutkan
bahwa penokohan seperti berikut.
Penokohan secara umum
ada dua cara yaitu analitik dan dramatik. Disebut analitik kalau pengarangnya
menyebut watak dan perangai sang tokoh secara langsung apa adanya atau secara
tersurat. Disebut cara dramatik bila pembaca mesti menyimpulkan sendiri
bagaimana sifat sang tokoh. Pembaca mesti menyimpulkan sendiri karena pengarang
yang menyebutkan secara tersirat mengenai perangai sang tokoh.
Berdasarkan pendapat
tersebut, disimpulkan bahwa pelukisan tokoh secara analitik adalah apabila
pengarang menggambarkan sifat tokoh secara tersurat di dalam teks. Sedangkan
pelukisan tokoh secara dramatik adalah apabila pengarang hanya menggambarkan
sifat tokoh dalam cerita secara tersirat, yaitu tidak tertulis dalam teks
cerita.
3.
Alur
Alur ialah peralihan dari satu keadaan
ke keadaan yang lain, demikian yang dikemukakan Luxemburg dalam Harjito
(1986:8).
Menurut Santosa dan Wahyuningtyas
(2010:4), secara sederhana alur dapat didefinisikan sebagai sebuah rangkaian
cerita dalam cerpen yang menunjukkan hubungan sebab akibat.
Sejalan dengan pendapat tersebut menurut
Nuryatin (2010:10), “alur adalah sambung sinambung peristiwa berdasarkan hukum
sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, tetapi juga
menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Dengan sambung sinambungnya peristiwa ini
terjadilah sebuah cerita”.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut,
dismpulkan bahwa alur adalah rangkaian sambung sinambung cerita yang
menunjukkan peralihan dari satu keadaan ke keadaan lain.
Nurgiyantoro (2010:116), mengatakan
”peristiwa, konflik, dan klimaks merupakan tiga unsur yang amat esensial dalam
pengembangan sebuah alur/plot cerita”.
Berdasarkan hukum Aristoteles, dalam
Nuryatin (2010:10), “sebuah alur/plot
terdiri atas tiga tahap, yaitu tahap awal (beginning), tahap tengah, (middle)
dan tahap akhir(end)”.
Sejalan dengan pendapat tersebut menurut
Nuryatin (2010:10), pada tahap awal cerita biasanya disebut sebagai tahap
perkenalan, berisi sejumlah informasi penting yang berkaitan dengan berbagai
hal yang akan dikisahkan pada tahap berikutnya, khususunya berkaitan dengan
pelataran dan penokohan, serta konflik yang melibatkan tokoh. Selanjutnya tahap
tengah disebut juga tahap pertikaian, menampilkan konflik yang sudah mulai
dibangun pada tahap awal, konflik menjadi semakin meningkat sampai klimaks atau
puncak. Tahap akhir disebut juga tahap peleraian, yaitu menampilkan adegan
tertentu yang merupakan penyelesaian dari konflik yang terjadi pada klimaks.
Berdasarkan
pendapat-pendapat tersebut, disimpulkan bahwa alur memiliki tiga tahap, (1)
awal, meliputi perkenalan tokoh, latar, dan awalan konflik dalam cerita; (2)
tengah, meliputi pertikaian puncak dari konflik cerita; (3) akhir, merupakan
penyelesaian dari jalannya cerita.
4. Latar
Harjito (2007:10), mengatakan “latar
adalah segala petunjuk, keterangan, acuan yang berkait dengan waktu, ruang,
suasana terjadinya peristiwa”.
Menurut Nurgiyantoro (2010:227), “unsur
latar dapat dibedakan ke dalam tiga pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial”.
Sejalan dengan pendapat tersebut menurut
Nuryatin (2010:13), Latar adalah gambaran tentang tempat, waktu atau masa, dan
kondisi socialterjadinya cerita. Itu berarti bahwa latar terdiri atas latar
tempat, latar waktu, dan latar sosial. (1) latar tempat, menunjuk pada tempat
atau lokasi terjadinya cerita, (2) latar waktu atau masa menunjuk pada kapan
atau bilamana cerita itu terjadi, dan (3) latar sosial menunjuk pada kondisi
sosial yang melingkupi terjadinya cerita.
Berdasarkan pendapat tersebut,
disimpulkan bahwa latar dalam cerita memiliki tiga jenis, (1) latar tempat,
adalah bagian cerita yang menunjukkan tempat terjadinya peristiwa; (2) latar
waktu, adalah bagian cerita yang menunjukkan waktu terjadinya peristiwa; (3)
latar sosial, adalah bagian cerita yang menunjukkan keadaan sosial yang
terjadi di dalam peristiwa.
5.
Amanat
Nuryatin (2010:5),
mengatakan “amanat dapat diartikan sebagai pesan yang ingin disampaikan
pengarang kepada pembaca”.
Menurut Sudjiman dalam
Harjito (2007:4), “amanat merupakan ajaran moral atau pesan yang disampaikan
pengarang di dalam karya sastra”.
Sejalan dengan pendapat
tersebut menurut Nurgiyantoro (2010:321), “moral dalam karya sastra dapat
dipandang sebagai amanat, pesan, message.
Bahkan, unsur amanat itu, sebenarnya, merupakan gagasan yang mendasari
penulisan karya itu, gagasan yang mendasari diciptakannya karya sastra sebagai
pendukung pesan”.
Berdasarkan
pendapat-pendapat tersebut, maka disimpulkan bahwa amanat adalah pesan berupa
ajaran moral yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Pesan berupa ajaran moral meliputi: 1) Religius, 2) sikap baik, 3) keadilan, 4) kejujuran,
dan 5) kerendahan hati
Penyampaian amanat bisa
dilakukan pegarang secara tersurat maupun tersirat. Yaitu sejalan dengan
pendapat Nuryatin (2010:5), cara pertama amanat disampaikan secara tersurat.
maksudnya pesan yang hendak disampaikan oleh penulis ditulis secara langsung di
dalam cerpen. Biasanya diletakkan pada bagian akhir cerpen, dalam hal ini
pembaca dapat langsung mengetahui pesan yang disampaikan oleh penulis. Cara
yang kedua adalah amanat disampaiakan secara tersirat, maksudnya pesan tidak
dituliskan secara langsung di dalam teks cerpen, melainkan disampaikan melalui
unsur-unsur cerpen. Pembaca diharapkan dapat menyimpulkan sendiri pesan yang
terkandung di dalam cerpen yang
dibacanya.
6.
Gaya Bahasa
Menurut Abrams dalam
Nurgiyantoro (2010: 276) gaya bahasa adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa,
atau bagaimana seorang pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan.
Sejalan dengan pendapat tersebut, menurut Nurgiyantoro (2010:276), gaya bahasa
ditandai oleh ciri-ciri formal kebahasaan seperti pilihan kata, struktur
kalimat, bentuk-bentuk bahasa figuratif, penggunaan kohesi dan lain-lain.
Menurut Endraswara (2008:75), Gaya bahasa adalah bahasa yang telah dicipta dan
bahkan direkayasa untuk mewakili ide sastrawan.
Berdasarkan beberapa pendapat
tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah pilihan kata yang digunakan
sastrawan atau pengarang untuk menuangkan ide dalam karya sastra.
D.
PEMBAHASAN
1.
Tema
Dalam
cerpen ini diceritakan tokoh pengemis yang mengemis dengan melantunkan Shalawat
Badar. Untuk menentukan tema cerpen dilakukan dengan cara a) persoalan yang
paling menonjol, b) persoalan yang paling banyak menimbulkan konflik, c)
persoalan yang banyak memerlukan waktu penceritaan.
a.
Persoalan yang Paling
Menonjol
Persoalan
yang paling menonjol dapat dilihat pada kutipan berikut.
Suasana
sungguh gerah, sangat bising dan para penumpang tak berdaya melawan keadaan
yang sangat menyiksa itu. Dalam keadaan seperti itu, harapan para penumpang
hanya satu; hendaknya sopir cepat datang dan bus segera bergerak kembali untuk
meneruskan perjalanan ke Jakarta. Namun laki-laki yang menjadi tumpuan harapan
itu kelihatan sibuk dengan kesenangannya sendiri. Sopir itu enak-enak bergurau
dengan seorang perempuan penjual buah. (Tohari, 2005:63).
Dari
kutipan tersebut, diketahui bahwa persoalan yang paling menonjol adalah keadaan
yang sangat menyiksa yang sedang dialami penumpang.
Persoalan
yang paling menonjol lainnya dapat dilihat pada kutipan berikut.
Kukira
aku masih dalam mimpi ketika kurasakan peristiwa yang hebat. Mula-mula kudengar
Guntur meledak dengan suara dahsyat. Kemudian kulihat mayat-mayat beterbangan
dan jatuh di sekelilingku. Mayat-mayat itu terluka dan beberapa diantaranya
kelihatan sangat mengerikan. Karena merasa takut aku pun lari. Namun sebuah
batu tersandung dan aku jatuh ke tanah. Mulut terasa asin dan aku meludah.
Ternyata ludahku merah. Terasa ada cairan mengalir dari lubang hidungku. Ketika
kuraba, cairan itu pun merah. Ya Tuhan. Tiba-tiba aku tersadar bahwa diriku
terluka parah. Aku terjaga dan di depanku ada malapetaka. Bus yang kutumpangi
sudah terkapar di tengah sawah dan bentuknya sudah tak keruan. Di dekatnya
terguling sebuah truk tangki yang tak kalah ringseknya. Dalam keadaan panik aku
mencoba bangkit bergerak ke jalan raya. Namun rasa sakit memaksaku duduk
kembali. Kulihat banyak kendaraan berhenti. Kudengar orang-orang merintih. Lalu
samar-samar kulihat seorang lelaki kusut keluar dari bangkai bus. Badannya tak
tergores sedikitpun. Lelaki itu dengan tenang berjalan kembali kearah kota
Cirebon. (Tohari, 2005:66).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa persoalan yang paling menonjol adalah
pentingnya membaca shalawat untuk keselamatan diri.
Berdasarkan
uraian tersebut, disimpulkan bahwa persoalan yang paling menonjol dalam cerpen
“Pengemis dan Shalawat Badar” adalah keadaan tersiksa yang dialami penumpang
dan pentingnya membaca shalawat untuk keselamatan diri.
b.
Persoalan yang
Menimbulkan Konflik
Persoalan
yang menimbulkan konflik dapat dilihat pada kutipan berikut.
Begitu
bus berhenti, puluhan pedagang asongan menyerbu masuk. Bahkan beberapa diantara
mereka sudah membajingloncat ketika bus masih berada di mulut terminal. Bus
menjadi pasar yang sangat hiruk-pikuk. Celakanya, mesin bus tidak dimatikan dan
sopir melompat turun begitu saja. Dan para pedagang asongan itu menawarkan
dagangan dengan suara melengking aagar bisa mengatasi derum mesin. Mereka
menyodor-nyodorkan dagangan, bila perlu sampai dekat sekali ke mata para
penumpang. Kemudian mereka mengeluh ketika mendapati tak seorang pun mau
berbelanja. Seorang diantara mereka malah mengutuk dengan mengatakan para
penumpang adalah manusia-manusia kikir, atau manusia-manusia yang tak punya
duit. (Tohari, 2005:63).
Berdasarkan
kutipan tersebut, diketahui bahwa persoalan yang menimbulkan konflik adalah bus
yang berhenti mengundang puluhan pedagang asongan untuk menyerbu masuk dan
membuat penumpang bus semakin tidak enak.
Persoalan
yang menimbulkan konflik juga terdapat pada kutipan berikut.
Sopir
yang marah menjalankan busnya dengan gila-gilaan. Kondektur diam. Tetapi
kata-kata kasarnya mendadak tumpah lagi. Kali ini bukan kepada sopir, melainkan
kepada pengemis yang jongkok dekat pintu belakang. (Tohari, 2005:65).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa persoalan yang menimbulkan konflik adalah
sopir menjalankan bus dengan gila-gilaan dan kondektur menumpahkan kemarahannya
kepada pengemis.
Berdasarkan
uraian tersebut, disimpulkan bahwa persoalan yang menimbulkan konflik adalah
bus yang berhenti membuat penumpang merasa tidak nyaman, sopir yang marah dan
menjalankan bus dengan gila-gilaan, dan Kondektur yang menumpahkan kemarahannya
kepada pengemis.
c.
Persoalan yang Banyak
Memerlukan Waktu Penceritaan
Persoaalan
yang banyak memerlukan waktu penceritaan dapat dilihat dari kutipan berikut.
Sementara
para penumpang lain kelihatan sangat gelisah dan jengkel, aku mencoba bersikap
lain. Perjalanan semacam ini sudah puluhan kali aku alami. Dari pengalaman
seperti itu aku mengerti bahwa ketidaknyamanan dalam perjalanan tak perlu
dikeluhkan karena sama sekali tidak mengatasi keadaan. Supaya jiwa dan raga
tidak tersiksa, aku selalu mencoba berdamai dengan keadaan. Maka kubaca
semuanya dengan tenang: Sopir yang tak acuh terhadap nasib para penumpang itu,
tukang-tukang asongan yang sangat berisik itu, dan lelaki yang setengah
mengantuk sambil mengepulkan asap dibelakangku itu. (Tohari, 2005:64).
Berdasarkan
kutipan tersebut diketahui bahwa persoaalan yang banyak memerlukan waktu
penceritaan adalah para penumpang sangat gelisah dan jengkel dengan berhentinya
bus yang ditumpangi.
Persoalan
yang banyak memerlukan waktu penceritaan juga dapat dilihat pada kutipan
berikut.
“He, sira!
kenapa kamu tidak turun? Mau jadi gembel di Jakarta?Kamu tidak tahu
gembel di sana pada dibuang ke laut dijadikan rumpon?”
Pengemis itu diam saja.
“Turun!”
“Sira beli mikir? Bus cepat seperti ini aku harus turun?”
“Tadi siapa suruh kamu naik?”
“Saya
naik sendiri. Tapi saya tidak ingin ikut. Saya Cuma mau ngemis, kok. Coba,
suruh sopir berhenti. Nanti saya akan turun. Mumpung belum jauh.”
Kondektur
kehabisan kata-kata. Dipandangnya pengemis itu seperti ia hendak menelannya
bulat-bulat. Yang dipandang pasrah. Dia tampaknya rela diperlakukan sebagai apa
saja asal tidak didorong keluar dari bus yang melaju makin cepat. Kondektur
berlalu sambil bersungut. Si pengemis yang merasa sedikit lega, bergerak
memperbaiki posisinya di dekat pintu belakang. Mulutnya kembali bergumam. “…shalatullah, salamullah, ‘ala thaha
rasulillah…”.
(Tohari,
2005:65).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa persoalan yang banyak memerlukan waktu
penceritaan adalah kondektur yang memarahi pengemis yang mengemis dengan
bershalawat karena tidak segera turun dari bus.
Persoalan
yang banyak memerlukan waktu penceritaan juga dapat dilihat pada kutipan
berikut.
Kukira
aku masih dalam mimpi ketika kurasakan peristiwa yang hebat. Mula-mula kudengar
Guntur meledak dengan suara dahsyat. Kemudian kulihat mayat-mayat beterbangan
dan jatuh di sekelilingku. Mayat-mayat itu terluka dan beberapa diantaranya
kelihatan sangat mengerikan. Karena merasa takut aku pun lari. Namun sebuah
batu tersandung dan aku jatuh ke tanah. Mulut terasa asin dan aku meludah.
Ternyata ludahku merah. Terasa ada cairan mengalir dari lubang hidungku. Ketika
kuraba, cairan itu pun merah. Ya Tuhan. Tiba-tiba aku tersadar bahwa diriku
terluka parah. Aku terjaga dan di depanku ada malapetaka. Bus yang kutumpangi
sudah terkapar di tengah sawah dan bentuknya sudah tak keruan. Di dekatnya
terguling sebuah truk tangki yang tak kalah ringseknya. Dalam keadaan panik aku
mencoba bangkit bergerak ke jalan raya. Namun rasa sakit memaksaku duduk
kembali. Kulihat banyak kendaraan berhenti. Kudengar orang-orang merintih. Lalu
samar-samar kulihat seorang lelaki kusut keluar dari bangkai bus. Badannya tak
tergores sedikitpun. Lelaki itu dengan tenang berjalan kembali kearah kota
Cirebon.
Telingaku
dengan gamblang mendengar suara lelaki yang terus berjalan dengan tenang kearah
timur itu: “shalatullah, salamullah, ‘ala
thaha rasulillah…”
(Tohari,
2005:66).
Berdasarkan
kutipan tersebut diketahui bahwa persoaalan yang banyak memerlukan waktu
penceritaan adalah betapa pentingnya membaca shalawat agar selalu mendapat
keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Berdasarkan
uraian tersebut disimpulkan bahwa tema dari cerpen “Pengemis dan Shalawat
Badar” adalah pentingya membaca shalawat.
2.
Tokoh dan Penokohan
a.
Tokoh
1)
Tokoh Utama
Tokoh
utama ditentukan dengan cara melihat (a) intensitas keterlibatan tokoh dalam
peristiwa-peristiwa yang membangun cerita yang sering muncul dan (b) tokoh yang
banyak berhubungan dengan tokoh lain melalui petunjuk yang diberikan pengarang.
a)
Intensitas Keterlibatan
Tokoh dalam Peristiwa
Intensitas
keterlibatan tokoh dalam peristiwa diketahui pada kutipan berikut.
Masih
banyak hal yang belum sempat aku baca ketika seorang lelaki naik ke dalam bus.
Celana, baju, dan kopiahnya berwarna hitam. Dia naik dari pintu depan. Begitu
naik lelaki itu mengucapkan salam dengan fasih. Kemudian dari mulutnya mengalir
Shalawat Badar dalam suara yang
bening. Dan tanganya menengadah. Lelaki itu mengemis. Aku membaca tentang
pengemis ini dengan perasaan yang sangat dalam. Aku dengarkan baik-baik
Shalawatnya. Ya, persis. Aku pun sering membaca shalawat seperti itu terutama
dalam pengajian-pengajian umum atau rapat-rapat. Sekarang kulihat dan kudengar
sendiri ada lelaki membaca shalawat badar untuk mengemis. (Tohari, 2005:64).
Dari
kutipan tersebut dijelaskan bahwa tokoh yang memiliki intensitas keterlibatan
dalam peristiwa adalah pengemis.
Selain
itu, intensitas keterlibatan tokoh dalam peristiwa diketahui pada kutipan
berikut.
Perhatianku
terhadap si pengemis terputus oleh bunyi pintu bus yang dibanting. Kulihat
sopir sudah duduk di belakang kemudi. Kondektur melompat masuk dan berteriak
kepada sopir. Teriakannya ditelan oleh bunyi mesin disen yang meraung-raung.
Kudengar kedua awak bus itu bertengkar. Kondektur tampaknya enggan melayani bus
yang tidak penuh, sementara sopir sudah bosan menunggu tambahan penumpang yang
ternyata tak kunjung datang. Mereka terus bertengakar melalui kata-kata yang
tak sedap didengar. Dan bus terus melaju meninggalkan terminal Cirebon.
(Tohari, 2005:65).
Dari
kutipan tersebut dijelaskan bahwa tokoh yang memiliki intensitas keterlibatan
dalam peristiwa adalah pengemis.
Selain
itu, intensitas keterlibatan tokoh dalam peristiwa diketahui pada kutipan
berikut.
Sopir
yang marah menjalankan busnya dengan gila-gilaan. Kondektur diam. Tetapi
kata-kata kasarnya mendadak tumpah lagi. Kali ini bukan kepada sopir, melainkan
kepada pengemis yang jongkok dekat pintu belakang. (Tohari, 2005:65).
Dari
kutipan tersebut dijelaskan bahwa tokoh yang memiliki intensitas keterlibatan
dalam peristiwa adalah pengemis.
Berdasarkan
uraian tersebut, disimpulkan bahwa tokoh yang mempunyai intensitas keterlibatan
dalam peristiwa adalah pengemis
b)
Tokoh yang Banyak
Berhubungan dengan Tokoh Lain
Tokoh
yang banyak berhubungan dengan tokoh lain dapat dilihat pada kutipan berikut.
(1) Tokoh
Pengemis berhubungan dengan tokoh aku
Tokoh
Pengemis berhubungan dengan tokoh aku dapat dilihat pada kutipan berikut.
Semula
ada perasaan tidak setuju mengapa hal-hal yang kudus seperti bacaan shalawat
itu dipakai untuk mengemis. Tetapi perasaan demikian lenyap ketika pengemis itu
sudah berdiri di depanku. Mungkin karena shalawat itu maka tanganku bergerak
merogoh kantong dan memberikan selembar ratusan. Atau karena ada banyak hal
dapat dibaca pada wajah si pengemis itu. (Tohari, 2005:64).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa tokoh pengemis mendatangi tokoh aku untuk
mengemis.
Selain
itu, hubungan tokoh pengemis dengan tokoh aku dapat dilihat dari kutipan
berikut.
Di sana
aku lihat kebodohan, kepasrahan yang memperkuat penampilan kemiskinan.
Wajah-wajah seperti itu sangat kuhafal karena selalu hadir mewarnai pengajian
yang sering diawali dengan Shalawat Badar. Ya. Jejak-jejak pengajian dan
ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup ada berbekas pada wajah pengemis itu.
Lalu mengapa dari pengajian yang sering didatanginya ia hanya bisa menghafal
Shalawat Badar dan kini menggunakannya untuk mengemis? Ah, kukira ada yang tak
beres. Ada yang salah. Sayangnya, aku tak begitu tega menyalahkan pengemis yang
terus membaca shalawat itu. (Tohari, 2005:64-65).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa tokoh aku berusaha melihat keadaan pengemis.
Berdasarkan
uraian tersebut disimpulkan bahwa tokoh Pengemis berhubungan dengan tokoh aku
(2) Tokoh
Pengemis berhubungan dengan Kendektur
Tokoh
Pengemis berhubungan dengan Kondektur dapat dilihat pada kutipan berikut.
Sopir
yang marah menjalankan busnya dengan gila-gilaan. Kondektur diam. Tetapi
kata-kata kasarnya mendadak tumpah lagi. Kali ini bukan kepada sopir, melainkan
kepada pengemis yang jongkok dekat pintu belakang.
“He, sira!
kenapa kamu tidak turun? Mau jadi gembel di Jakarta? Kamu tidak tahu
gembel di sana pada dibuang ke laut dijadikan rumpon?”
(Tohari,
2005:65).
Berdasarkan
kutipan tersebut diketahui bahwa tokoh pengemis dimarahi oleh tokoh kondektur
karena tidak turun.
Selain
itu, hubungan tokoh Pengemis dengan Kondektur dapat dilihat pada kutipan
berikut.
Kondektur
kehabisan kata-kata. Dipandangnya pengemis itu seperti ia hendak menelannya
bulat-bulat. Yang dipandang pasrah. Dia tampaknya rela diperlakukan sebagai apa
saja asal tidak didorong keluar dari bus yang melaju makin cepat. Kondektur
berlalu sambil bersungut. Si pengemis yang merasa sedikit lega, bergerak
memperbaiki posisinya di dekat pintu belakang. Mulutnya kembali bergumam. “…shalatullah, salamullah, ‘ala thaha
rasulillah…”(Tohari, 2005:65).
Dari
kutipan tersebut, diketahui bahwa tokoh kondektur memandang pengemis seperti
hendak menelannya bulat-bulat.
Berdasarkan
uraian tersebut, dapat disimpukan bahwa tokoh pengemis berhubungan dengan tokoh
kondektur.
(3) Tokoh
Pengemis berhubungan dengan Sopir
Tokoh
Pengemis berhubungan dengan sopir dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Saya
naik sendiri. Tapi saya tidak ingin ikut. Saya Cuma mau ngemis, kok. Coba,
suruh sopir berhenti. Nanti saya akan turun. Mumpung belum jauh.” (Tohari,
2005:65).
Berdasarkan
kutipan tersebut diketahui bahwa tokoh pengemis meminta kondektur untuk bilang
kepada sopir agar memberhentikan sebentar busnya.
Berdasarkan
uraian tersebut, disimpulkan bahwa tokoh pengemis berhubungan dengan tokoh
sopir.
Jadi tokoh yang banyak berhubungan
dengan tokoh lain adalah Pengemis.
Berdasarkan analisis tersebut,
disimpulkan pula bahwa tokoh utama dalam cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar”
adalah Pengemis, karena Ia adalah tokoh yang berhubungan dengan (1) Tokoh aku,
(2) Kondektur, dan (3) Sopir.
2)
Tokoh Bawahan
Tokoh
bawahan dalam cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar” dapat dilihat pada kutipan
berikut.
(a)
Tokoh Aku
Keberadaan
tokoh Aku dapat dilihat pada kutipan berikut.
Semula
ada perasaan tidak setuju mengapa hal-hal yang kudus seperti bacaan shalawat
itu dipakai untuk mengemis. Tetapi perasaan demikian lenyap ketika pengemis itu
sudah berdiri di depanku. Mungkin karena shalawat itu maka tanganku bergerak
merogoh kantong dan memberikan selembar ratusan. Atau karena ada banyak hal
dapat dibaca pada wajah si pengemis itu. (Tohari, 2005:64).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa tokoh aku memberi uang selembar ratusan kepada
pengemis.
Keberadaan
tokoh aku juga dapat dilihat pada kutipan berikut.
Kukira
aku masih dalam mimpi ketika kurasakan peristiwa yang hebat. Mula-mula kudengar
Guntur meledak dengan suara dahsyat. Kemudian kulihat mayat-mayat beterbangan
dan jatuh di sekelilingku. Mayat-mayat itu terluka dan beberapa diantaranya
kelihatan sangat mengerikan. Karena merasa takut aku pun lari. Namun sebuah
batu tersandung dan aku jatuh ke tanah. Mulut terasa asin dan aku meludah.
Ternyata ludahku merah. Terasa ada cairan mengalir dari lubang hidungku. Ketika
kuraba, cairan itu pun merah. Ya Tuhan. Tiba-tiba aku tersadar bahwa diriku
terluka parah. Aku terjaga dan di depanku ada malapetaka. Bus yang kutumpangi
sudah terkapar di tengah sawah dan bentuknya sudah tak keruan. Di dekatnya
terguling sebuah truk tangki yang tak kalah ringseknya. Dalam keadaan panik aku
mencoba bangkit bergerak ke jalan raya. Namun rasa sakit memaksaku duduk
kembali. Kulihat banyak kendaraan berhenti. Kudengar orang-orang merintih. Lalu
samar-samar kulihat seorang lelaki kusut keluar dari bangkai bus. Badannya tak
tergores sedikitpun. Lelaki itu dengan tenang berjalan kembali kearah kota
Cirebon. (Tohari, 2005:66).
Dari
kutipan tersebut terlihat bahwa pada saat tokoh aku mengalami kecelakaan, ia
masih bisa melihat pengemis yang berjalan dengan tenang ke arah Cirebon.
Berdasarkan
uraian tersebut, disimpulkan bahwa tokoh aku diperlukan untuk mengeksistensikan
tokoh utama.
(b)
Tokoh Kondektur
Keberadaan
Kondektur dapat dilihat pada kutipan berikut.
Sopir
yang marah menjalankan busnya dengan gila-gilaan. Kondektur diam. Tetapi
kata-kata kasarnya mendadak tumpah lagi. Kali ini bukan kepada sopir, melainkan
kepada pengemis yang jongkok dekat pintu belakang. (Tohari, 2005:65).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa tokoh kondektur menumpahkan kemarahannya
kepada pengemis.
Berdasarkan
uraian tersebut disimpulkan bahwa tokoh kondektur diperlukan untuk
mengeksistensikan tokoh utama.
(c)
Tokoh Sopir
Keberadaan
tokoh Sopir dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Saya
naik sendiri. Tapi saya tidak ingin ikut. Saya Cuma mau ngemis, kok. Coba,
suruh sopir berhenti. Nanti saya akan turun. Mumpung belum jauh.”. (Tohari,
2005:65).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa tokoh pengemis meminta pada kondektur agar
menyuruh sopir menghentikan busnya sebentar.
Berdasarkan
uraian tersebut disimpulkan bahwa tokoh sopir diperlukan untuk
mengeksistensikan tokoh utama.
Berdasarkan analisis tersebut,
dismpulkan bahwa tokoh bawahan pada cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar” karya
Ahmad Tohari adalah tokoh aku, kondektur, dan sopir.
b.
Penokohan
Penokohan
dalam cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar” dapat dilihat pada kutipan berikut.
(1) Tokoh
Pengemis
Penokohan
Pengemis digambarkan pada kutipan berikut.
Masih
banyak hal yang belum sempat aku baca ketika seorang lelaki naik ke dalam bus.
Celana, baju, dan kopiahnya berwarna hitam. ... (Tohari, 2005:64).
Dari
kutipan tersebut tokoh Pengemis digambarkan sebagai seorang yang memakai
celana, baju dan kopiahnya berwarna hitam. Hal itu disampaikan pengarang secara
tersurat.
Selain
itu, penokohan Pengemis juga dapat dilihat pada kutipan berikut.
Di sana
aku lihat kebodohan, kepasrahan yang memperkuat penampilan kemiskinan. ...
(Tohari, 2005:64-65).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa tokoh pengemis menurut pandangan orang yang
melihatnya adalah seorang yang bodoh, pasrah, dan miskin. Hal itu disampaikan
pengarang secara tersurat.
Penokohan
Pengemis juga dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Saya
naik sendiri. Tapi saya tidak ingin ikut. Saya Cuma mau ngemis, kok. Coba,
suruh sopir berhenti. Nanti saya akan turun. Mumpung belum jauh.”
(Tohari, 2005:65).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa tokoh pengemis adalah seorang yang rendah hati
walaupun kepada orang yang telah memarahinya. Hal itu disampaikan pengarang
secara tersurat.
Penokohan
tokoh Pengemis yang lain dapat dilihat pada kutipan berikut.
… Si pengemis yang merasa sedikit lega,
bergerak memperbaiki posisinya di dekat pintu belakang. Mulutnya kembali
bergumam. “…shalatullah, salamullah, ‘ala
thaha rasulillah…”(Tohari, 2005:65).
Dari kutipan tersebut diketahui
bahwa pengemis adalah seorang yang pasrah dan suka bershalawat. Hal itu
disampaikan pengarang secara tersurat.
Bedasarkan
uraian tersebut, disimpulkan bahwa tokoh pengemis adalah seorang yang memakai
celana, baju dan kopiahnya berwarna hitam, menurut pandangan orang yang
melihatnya adalah seorang yang bodoh, pasrah, dan miskin, rendah hati walaupun
kepada orang yang telah memarahinya, dan suka bershalawat. Hal itu disampaikan
pengarang secara tersurat.
(2) Tokoh
Aku
Tokoh
Aku digambarkan pada kutipan berikut.
Sementara
para penumpang lain kelihatan sangat gelisah dan jengkel, aku mencoba bersikap
lain. Perjalanan semacam ini sudah puluhan kali aku alami. Dari pengalaman
seperti itu aku mengerti bahwa ketidaknyamanan dalam perjalanan tak perlu
dikeluhkan karena sama sekali tidak mengatasi keadaan. Supaya jiwa dan raga
tidak tersiksa, aku selalu mencoba berdamai dengan keadaan. Maka kubaca
semuanya dengan tenang: Sopir yang tak acuh terhadap nasib para penumpang itu,
tukang-tukang asongan yang sangat berisik itu, dan lelaki yang setengah
mengantuk sambil mengepulkan asap dibelakangku itu. (Tohari, 2005:64).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa tokoh Aku adalah orang yang sabar dan dapat
berdamai dengan keadaan. Hal itu disampaikan pengarang secara tersurat.
Penokohan tokoh aku juga dapat dilihat pada kutipan
berikut.
Semula
ada perasaan tidak setuju mengapa hal-hal yang kudus seperti bacaan shalawat
itu dipakai untuk mengemis. Tetapi perasaan demikian lenyap ketika pengemis itu
sudah berdiri di depanku. Mungkin karena shalawat itu maka tanganku bergerak
merogoh kantong dan memberikan selembar ratusan. Atau karena ada banyak hal
dapat dibaca pada wajah si pengemis itu. (Tohari, 2005:64).
Dari
kutipan tersebut, diketahui bahwa tokoh aku adalah seorang yang dermawan karena
mau memberi sebagian uangnya untuk pengemis. Hal itu disampaikan pengarang
secara tersurat.
Berdasarkan
uraian tersebut disimpulkan bahwa tokoh aku adalah seorang yang sabar, dapat
berdamai dengan keadaan, dan dermawan. Hal itu disampaikan pengarang secara
tersurat.
(3) Tokoh
Kondektur
Penokohan
Kondektur dapat dilihat pada kutipan berikut.
Sopir
yang marah menjalankan busnya dengan gila-gilaan. Kondektur diam. Tetapi
kata-kata kasarnya mendadak tumpah lagi. Kali ini bukan kepada sopir, melainkan
kepada pengemis yang jongkok dekat pintu belakang. (Tohari, 2005:65).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa tokoh kondektur adalah seorang yang pemarah.
Hal itu disampaikan pengarang secara tersurat.
Penokohan
kondektur juga dapat dilihat dari kutipan berikut.
“He, sira!
kenapa kamu tidak turun? Mau jadi gembel di Jakarta? Kamu tidak tahu
gembel di sana pada dibuang ke laut dijadikan rumpon?” (Tohari, 2005:65).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa tokoh kondektur merupakan seorang yang kurang
berkeprimanusiaan karena berkata yang tidak pantas pada orang lain. Hal itu
disampaikan pengarang secara tersurat.
Berdasarkan
kutipan tersebut, disimpulkan bahwa tokoh kondektur adalah seorang yang pemarah
dan kurang berkeprimanusiaan. Hal itu disampaikan pengarang secara tersurat.
(4) Tokoh
Sopir
Penokohan
Sopir dapat dilihat pada kutipan berikut.
Suasana
sungguh gerah, sangat bising dan para penumpang tak berdaya melawan keadaan
yang sangat menyiksa itu. Dalam keadaan seperti itu, harapan para penumpang
hanya satu; hendaknya sopir cepat datang dan bus segera bergerak kembali untuk
meneruskan perjalanan ke Jakarta. Namun laki-laki yang menjadi tumpuan harapan
itu kelihatan sibuk dengan kesenangannya sendiri. Sopir itu enak-enak bergurau
dengan seorang perempuan penjual buah. (Tohari, 2005:63).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa sopir adalah orang yang egois karena
memikirkan kepentingannya sendiri. Hal itu disampaikan pengarang secara
tersurat.
Penokohan
Sopir yang lain juga dapat dilihat pada kutipan berikut.
Sopir
yang marah menjalankan busnya dengan gila-gilaan. Kondektur diam. Tetapi
kata-kata kasarnya mendadak tumpah lagi. Kali ini bukan kepada sopir, melainkan
kepada pengemis yang jongkok dekat pintu belakang. (Tohari, 2005:65).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa Sopir merupakan orang yang pemarah. Hal itu
disampaikan pengarang secara tersurat.
Berdasarkan
uraian tersebut, disimpulkan bahwa tokoh sopir adalah orang yang egois dan
pemarah. Hal itu disampaikan pengarang secara tersurat.
3.
Alur
Analisis
alur dalam cerpen “Pengemis
dan Shalawat Badar” karya Ahmad Tohari meliputi awal, tengah, akhir.
Alur awal meliputi perkenalan tokoh, latar, dan awalan konflik, yaitu saat tokoh aku bercerita telah memasuki
stasiun Cirebon tepat ketika matahari telah mencapai pucuk langit. Awalan
konflik dimulai saat bus berhenti menunggu tambahan penumpang, yang dengan
cepat mengubah bus menjadi pasar yang hiruk-pikuk, disusul dengan seorang
lelaki tua berpakaian serba hitam yang mengemis dengan melantunkan shalawat.
Alur tengah meliputi pertikaian puncak dari konflik cerita, yaitu pada saat dua awak bus antara
sopir dan kondektur bertengkar. Sopir menjalankan bus dengan gila-gilaan.
Kondektur meluapkan kekesalannya pada pengemis. Dan pengemis pasrah dengan
apapun yang akan dilakukan kondektur.
Alur akhir, merupakan penyelesaian dari jalannya cerita, yaitu pada saat bus mengalami
kecelakaan dengan truk tangki, semua penumpang terluka parah kecuali pengemis
yang masih bis keluar dari bus tanpa tergores luka sedikitpun dan terus
melantunkan shalawat Badar.
Berdasarkan uraian tersebut, secara berurutan
alur dalam cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar” adalah: Bus memasuki terminal,
dilanjutkan dengan pertikaian antara sopir dan kondektur,
dan diakhiri dengan malapetaka kecelakaan bus dengan truk tangki.
4.
Latar
Analisis
latar dalam cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar” karya Ahmad Tohari meliputi
latar waktu, tempat, dan sosial.
a)
Latar Waktu
Latar
waktu diketahui pada kutipan berikut.
Bus
yang aku tumpangi masuk terminal Cirebon ketika matahari hampir mencapai pucuk
langit. Terik matahari ditambah dengan panasnya mesin disel tua memanggang bus
itu bersama isinya. (Tohari, 2005:63).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa latar waktunya adalah pada siang hari.
Berdasarkan
uraian tersebut disimpulkan bahwa latar waktu dalam cerpen “Pengemis dan Shalawat
Badar” adalah pada siang hari.
b)
Latar Tempat
Latar
tempat dapat dilihat pada kutipan berikut.
Bus yang aku tumpangi masuk terminal
Cirebon ketika matahari hampir mencapai pucuk langit. (Tohari, 2005:63).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa latar tempatnya adalah di terminal cirebon
Latar
tempat yang lain dapat dilihat pada kutipan berikut.
Begitu
bus berhenti, puluhan pedagang asongan menyerbu masuk. Bahkan beberapa diantara
mereka sudah membajingloncat ketika bus masih berada di mulut terminal. Bus
menjadi pasar yang sangat hiruk-pikuk. (Tohari, 2005:63).
Dari
kutipan tersebut diketahui latar tempatnya adalah di dalam bus.
Latar
tempat di dalam bus juga dapat dilihat pada kutipan berikut
Perhatianku
terhadap si pengemis terputus oleh bunyi pintu bus yang dibanting. (Tohari,
2005:65).
Dari
kutipan tersebut diketahui latar tempatnya adalah di dalam bus.
Latar
tempat yang lain dapat dilihat pada kutipan berikut.
… Bus
yang kutumpangi sudah terkapar di tengah sawah dan bentuknya sudah tak keruan.
Di dekatnya terguling sebuah truk tangki yang tak kalah ringseknya. Dalam
keadaan panik aku mencoba bangkit bergerak ke jalan raya. Namun rasa sakit
memaksaku duduk kembali. Kulihat banyak kendaraan berhenti. Kudengar
orang-orang merintih. Lalu samar-samar kulihat seorang lelaki kusut keluar dari
bangkai bus. Badannya tak tergores sedikitpun. Lelaki itu dengan tenang
berjalan kembali kearah kota Cirebon. (Tohari, 2005:66).
Dari
kutipan tersebut diketahui latar tempatnya adalah di tengah sawah.
Berdasarkan
uraian tersebut disimpulkan bahwa latar tempat pada cerpen “Pengemis dan
Shalawat Badar” adalah di terminal Cirebon, di dalam bus, dan di tengah sawah.
c)
Latar Sosial
Latar
sosial dapat dilihat pada kutipan berikut.
Bus
yang aku tumpangi masuk terminal Cirebon ketika matahari hampir mencapai pucuk
langit. Terik matahari ditambah dengan panasnya mesin disel tua memanggang bus
itu bersama isinya. Untung tak begitu penuh sehingga sesama penumpang tak perlu
bersinggungan badan. Namun dari sebelah kiriku bertiup bau keringat melalui
udara yang dialirkan dengan kipas Koran. Dari belakang terus-menerus mengepul
asap rokok dari mulut seorang lelaki setengah mengantuk. (Tohari, 2005:63).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa latar sosialnya adalah keaadaan yang tidak
enak di dalam bus.
Latar
sosial yang lain juga dapat dilihat pada kutipan berikut.
Shalawat
itu terus mengalun dan terdengar makin jelas karena tak ada lagi suara
kondektur. Para penumpang membisu dan terlena dalam pikiran masing-masing. Aku
pun mulai mengantuk sehingga lama-lama aku tak bisa membedakan mana suara
shalawat dan mana derum mesin diesel. Boleh jadi aku sudah berada di alam mimpi
dan di sana kulihat ribuan orang membaca shalawat. Anehnya, mereka yang
berjumlah banyak sekali itu memiliki rupa yang sama. Mereka semuanya mirip
sekali dengan pengemis yang naik dalam bus yang kutumpangi di terminal Cirebon.
Dan dalam mimpi pun aku berpendapat bahwa mereka bisa menghafal teks shalawat
itu dengan sempurna karena mereka sering mendatangi ceramah-ceramah tentang
kebaikan hidup di dunia maupun di akhirat. Dan dari ceramah-ceramh seperti itu
mereka hanya memperoleh hafalan yang untungnya boleh dipakai modal menadahkan
tangan. (Tohari, 2005:65-66).
Dari
kutipan tersebut diketahui bahwa latar sosialnya adalah rasa ngantuk yang
melanda setiap penumpang bus.
Berdasarkan
uraian tersebut disimpulkan bahwa latar sosial pada cerpen “Pengemis dan
Shalawat Badar” adalah keaadaan yang tidak enak di dalam bus dan rasa ngantuk
yang melanda setiap penumpang bus.
5.
Amanat
Amanat atau pesan moral dalam
cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar” dapat dilihat pada kutipan berikut.
Masih
banyak hal yang belum sempat aku baca ketika seorang lelaki naik ke dalam bus.
Celana, baju, dan kopiahnya berwarna hitam. Dia naik dari pintu depan. Begitu
naik lelaki itu mengucapkan salam dengan fasih. Kemudian dari mulutnya mengalir
Shalawat Badar dalam suara yang
bening. Dan tanganya menengadah. Lelaki itu mengemis. Aku membaca tentang
pengemis ini dengan perasaan yang sangat dalam. Aku dengarkan baik-baik
Shalawatnya. Ya, persis. Aku pun sering membaca shalawat seperti itu terutama
dalam pengajian-pengajian umum atau rapat-rapat. Sekarang kulihat dan kudengar
sendiri ada lelaki membaca shalawat badar untuk mengemis. (Tohari, 2005:64).
Dari
kutipan tersebut tergambar amanat pesan
moral 1) religius dengan mengucapkan salam dan melantunkan shalawat.
Pesan
moral 1) religius juga dapat dilihat pada kutipan berikut.
Di sana
aku lihat kebodohan, kepasrahan yang memperkuat penampilan kemiskinan.
Wajah-wajah seperti itu sangat kuhafal karena selalu hadir mewarnai pengajian
yang sering diawali dengan Shalawat Badar. Ya. Jejak-jejak pengajian dan
ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup ada bebrbekas pada wajah pengemis itu.
Lalu mengapa dari pengajian yang sering didatanginya ia hanya bisa menghafal
Shalawat Badar dan kini menggunakannya untuk mengemis? Ah, kukira ada yang tak
beres. Ada yang salah. Sayangnya, aku tak begitu tega menyalahkan pengemis yang
terus membaca shalawat itu. (Tohari, 2005:64-65).
Dari
kutipan tersebut tergambar pesan moral 1) religius dengan menceritakan
pengajian dan ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup.
Pesan
moral yang lain, digambarkan pada kutipan berikut.
Semula
ada perasaan tidak setuju mengapa hal-hal yang kudus seperti bacaan shalawat
itu dipakai untuk mengemis. Tetapi perasaan demikian lenyap ketika pengemis itu
sudah berdiri di depanku. Mungkin karena shalawat itu maka tanganku bergerak
merogoh kantong dan memberikan selembar ratusan. Atau karena ada banyak hal
dapat dibaca pada wajah si pengemis itu. (Tohari, 2005:64).
Dari
kutipan tersebut tergambar pesan moral 2) sikap baik karena tokoh aku mau
memberikan sebagian uangnya untuk pengemis.
Pesan
moral yang lain juga dapat dilihat pada kutipan berikut.
”Saya
naik sendiri. Tapi saya tidak ingin ikut. Saya Cuma mau ngemis, kok. Coba,
suruh sopir berhenti. Nanti saya akan turun. Mumpung belum jauh.” (Tohari,
2005:65).
Dari
kutipan tersebut terlihat pesan moral 3) kerendahan hati, seorang pengemis yang
menerima saat sedang dimarahi orang lain.
Pesan
moral 3) kerendahan hati juga digambarkan pada kutipan berikut.
Kondektur
kehabisan kata-kata. Dipandangnya pengemis itu seperti ia hendak menelannya
bulat-bulat. Yang dipandang pasrah. Dia tampaknya rela diperlakukan sebagai apa
saja asal tidak didorong keluar dari bus yang melaju makin cepat. Kondektur
berlalu sambil bersungut. Si pengemis yang merasa sedikit lega, bergerak
memperbaiki posisinya di dekat pintu belakang. Mulutnya kembali bergumam. “…shalatullah, salamullah, ‘ala thaha
rasulillah…”(Tohari, 2005:65).
Dari
kutipan tersebut tergambar sikap 3) kerendahan hati tokoh Pengemis yang pasrah
dengan keadaan apa yang sedang diterimanya.
Berdasarkan
uraian tersebut disimpulkan bahwa amanat
pesan moral yang terdapat pada cerpen “Pengemis dan
Shalawat Badar” adalah pesan moral 1) religius, 2) sikap baik, dan 3) kerendahan
hati.
6.
Gaya Bahasa
Mengenai gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam
cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar”, dapat dilihat di sebagian besar teks
cerpen tersebut. Misalnya pada kutipan :
Suasana
sungguh gerah, sangat bising dan para penumpang tak berdaya melawan keadaan
yang sangat menyiksa itu. Dalam keadaan seperti itu, harapan para penumpang
hanya satu; hendaknya sopir cepat datang dan bus segera bergerak kembali untuk
meneruskan perjalanan ke Jakarta. Namun laki-laki yang menjadi tumpuan harapan
itu kelihatan sibuk dengan kesenangannya sendiri. Sopir itu enak-enak bergurau
dengan seorang perempuan penjual buah. (Tohari, 2005:63).
Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya
bahasa yang digunakan adalah model bahasa seperti lazimnya orang bercerita.
Gaya bahasa yang lain dapat dilihat pada kutipan:
Shalawat
itu terus mengalun dan terdengar makin jelas karena tak ada lagi suara
kondektur. Para penumpang membisu dan terlena dalam pikiran masing-masing. Aku
pun mulai mengantuk sehingga lama-lama aku tak bisa membedakan mana suara
shalawat dan mana derum mesin diesel. Boleh jadi aku sudah berada di alam mimpi
dan di sana kulihat ribuan orang membaca shalawat. Anehnya, mereka yang
berjumlah banyak sekali itu memiliki rupa yang sama. Mereka semuanya mirip
sekali dengan pengemis yang naik dalam bus yang kutumpangi di terminal Cirebon.
Dan dalam mimpi pun aku berpendapat bahwa mereka bisa menghafal teks shalawat
itu dengan sempurna karena mereka sering mendatangi ceramah-ceramah tentang
kebaikan hidup di dunia maupun di akhirat. Dan dari ceramah-ceramh seperti itu
mereka hanya memperoleh hafalan yang untungnya boleh dipakai modal menadahkan
tangan. (Tohari, 2005:65-66).
Dari kutipan tersebut pun, pengarang masih eksis
dengan model gaya bahasa yang wajar digunakan untuk menceritakan sebuah kisah.
Ditambah lagi dengan penggunaan preposisi “aku” “ku” memperkuat kesan bahwa
gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa yang santai, langsung bercerita
pada poin yang ingin disampaikan.
Berdasarkan uraian tersebut, disimpulkan bahwa gaya
bahasa yang digunakan pengarang adalah model gaya bahasa santai dan bercerita
langsung pada poin yang ingin disampaikan.
E.
SIMPULAN
Simpulan dalam penelitian pendekatan objektif dalam
cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar” adalah.
1.
Tema
dari cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar” adalah pentingya membaca shalawat.
2.
Tokoh-tokohnya meliputi, tokoh utama: pengemis, tokoh bawahan: aku, sopir,
kondektur.
Penokohannya: 1) pengemis : seorang
yang memakai celana, baju dan kopiahnya berwarna hitam, menurut pandangan orang
yang melihatnya adalah seorang yang bodoh, pasrah, dan miskin, rendah hati
walaupun kepada orang yang telah memarahinya, dan suka bershalawat. 2) aku : seorang yang sabar,
dapat berdamai dengan keadaan, dan dermawan.
3) kondektur : adalah
seorang yang pemarah dan kurang berkeprimanusiaan. 4) sopir :
adalah orang yang egois dan pemarah.
3.
Alurnya
adalah: Bus memasuki terminal dilanjutkan dengan pertikaian antara sopir dan
kondektur dan diakhiri dengan malapetaka kecelakaan bus dengan truk tangki.
4.
Latar waktu : siang hari. Latar tempat : di
terminal Cirebon, di dalam bus, dan di tengah sawah. Latar sosial : keaadaan yang
tidak enak di dalam bus dan rasa ngantuk yang melanda setiap penumpang bus.
5.
Amanat atau pesan
moral yang terdapat pada cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar” adalah pesan
moral 1) religius, 2) sikap baik, dan 3) kerendahan hati.
6.
Gaya bahasanya santai dan bercerita langsung pada poin yang ingin
disampaikan.
F.
DAFTAR PUSTAKA
Harjito. 2007. Melek Sastra. Semarang: IKIP PGRI Semarang Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori
Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gadjah Mada Press.
Nuryatin,
Agus. 2010. Mengabdikan Pengalaman dalam
Cerpen. Semarang: Yayasan Adhigama
Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tohari,
Ahmad. 2005. Senyum Karyamin.Jakarta
: PT Gramedia Pustaka Utama
TF_Foundation
Tidak ada komentar:
Posting Komentar